Panen Jangkrik Pertama (tanggal 23 yang dinanti)

Masih Bulan Puasa, tanggal 23 Agustus 2010 ini, akhirnya tiba juga… ehm panen nich!
Sayangnya waktu itu saya sedang diluar kota sehingga yang memanen Jangkrik-jangkrik kami dari kandang pertama adalah teman-teman yang kebetulan ada di tempat.. :(((
Setelah di timbang, ternyata hasilnya nggak bagus :((( hanya kurang dari 4 Kg, saja.. hmm kenapa ya??
Hasil diskusi kami (10 orang) ini mengambil kesimpulan obrolan ngelantur dari berbagai kemungkinan.. Penyebabnya adalah proses penetasan yang tidak sempurna. Terlalu banyak telur yang terlambat menetas, bahkan tidak menetas karena penyimpanan yang salah.
Penetasan pertama kami menggunakan cara: telur dibungkus dengan kain basah, kemudian kain disimpan diatas triplex, secara berkala (cenderung semaunya, hehehe )kami menyemprotnya dengan watter sprayer. dan ternyata memang telur menetas lumayan banyak. Sehingga setelah usia satu minggu kami menganggap bahwa telur tidak akan menetas lagi, lalu kami menumpahkan sisa telur kedalam kandang. dengan harapan bila masih ada yang menetas, maka jangkriknya tidak akan mubadzir.
Untuk ujicoba kedua kami menggunakan cara yang berbeda yaitu dengan mengikatkan kain diatas mangkok dengan diameter 20cm dengan menggunakan karet gelang, setelah sebelumnya mangkuk diisi dengan air sampai setengahnya. Lalu telur jangkrik diletakkan diatas mangkuk isi air yang sudah ditutup kain (jadi diatas kain, dong.. hehe). kemudia telur ditutup lagi dengan kain basah yang terpisah dari kain yang diikatkan tadi. kemudian secara berkala kami menyemprotnya dengan air (tipsnya: jangan terlalu basah, asal saja hanya untuk menjaga kelembaban kain).
Hasilnya.. woow kandang ternyata dipenuhi oleh warna hitam anak jangkrik, cara ini ternyata lebih baik dari yang pertama. secara kasat mata jumlah telur yang menetas jauh lebih banyak dari pada ujicoba penetasan yang pertama, ini terlihat dari penuhnya kandang oleh anak-anak jangkrik.. semoga!
Kembali ke panen Jangkrik pertama, beberapa kawan sempat down juga melihat panen yang hanya seperempatnya saja dari target, di tambah dengan harga jual yang hanya 30.000 perak… untung yang lain tetap memberi semangat, sehingga akhirnya kami kembali ceria dan kegagalan dan kebodohan sebelumnya hanya jadi bahan tertawan dan lelucon kami sendiri..
Nah Duitnya yang hanya 100.000 rupiah dipake apa dong buat 10 orang? Yaaa bikin kandang lagi karena kami gak kenal menyerah…
Nah sekarang tanggal yang kami tunggu adalah tanggal 1 September…kenapa? Panen kedua bro!! siapa tahu yang kali ini berhasil.. hahaha
Doakan saja…!

Tatang
Ujung berung!

Dipublikasi di Cerita awal "terjebak" jangkrik | Tag , | 2 Komentar

Memberi Makan Jangkrik Rakus (just wait and see!)

Dalam tulisan sebelumnya, saya menceritakan bahwa sekarang kami sudah punya satu kandang jangkrik hasil dari gotong royong 10 orang.

setelah menanam, kami lebih sering bertemu di rumah pak Handoyo (tempat kandang jangkrik disimpan), menanti telur menetas dengan menyemprotkan air ke atas kain tempat kami menyimpan telur, dan memastikan lampu 5 watt diatasnya terus menyala… menyaksikan ratusan bahkan ribuan anak jangkrik keluar dari kain lembab tempat menyimpan telur jangkrik, menjadi kesenangan baru disamping bermain gapleh.. sampai akhirnya kami menganggap bahwa telur telah menetas semua dan kami pun menumpahkan sisa telur kedalam kandang agar sisanya diharapkan menetas kemudian.

kami pun membagi tugas untuk memberi makan bayi jangkrik dengan pur makanan ayam yang dihaluskan dengan menumbuk dan menyaringnya dengan kain.

Kami betul betul learning by doing, dengan eksperimen asal-asalan, kami pun memasukkan beberapa makanan tambahan berupa daun-daunan yang kami temui dijalan seperti daun tempuyung, rumput, daun singkong dan lain-lain, yang semuanya dimakan dengan rakus oleh si bayi jangkrik.

Memasuki minggu ketiga setelah meletakkan telur, kami semua mulai kerepotan dengan makanan tambahan tersebut karena ternyata daun-daunan yang kami sajikan cepat sekali habis dalam hitungan jam. akhirnya para pemuda yang tadinya cuma ikut rapat-rapatan, mulai mau mencari makanan ke pasar Ujungberung dan Gedebage untuk mencari sayuran bekas. Apalagi kami sekarang mempunyai kandang baru dengan telur yang hanya berbeda dua minggu usianya dengan yang pertama. (kandang yang ini dibuat dengan material baru). “Rompesan” (istilah kami untuk sayuran bekas) satu karung kecil, bisa habis dalam hitungan tiga hari.. kami sangat senang sekarang karena sebentar lagi kandang pertama -yang kami buat gotong royong, dengan bahan material kayu bekas dimakan rayap- akan segera panen.. diharapkan tanggal 23 Agustus 2010 ( usia satu bulan pas) atau paling lambat seminggu sebelum lebaran, kami sudah panen.. Semoga!

hmmmmm berapa penghasilannya ya??

sekali lagi Just wait and see!

Salam,

Tatang Rahman

Dipublikasi di Cerita awal "terjebak" jangkrik | Tag , , | Meninggalkan komentar

Atap Rumahku Dimakan Rayap

Kami (10 orang) adalah sekelompok bapak-bapak plus beberapa pemuda di kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung, yang bila pulang kerja selalu nongkrong dan menghabiskan waktu sia-sia dengan main gapleh! sementara beberapa pemuda pengangguran di RW kami dibiarkan tak kami sentuh.

Suatu saat.. karena rumah kami di pegunungan.. rumah saya terserang rayap (jawa=tinggi)  yang luar biasa sehingga hampir menghabiskan atap rumah saya. Beruntung si rayap belum sampai pada kayu kuda-kuda. Maka kami pun bergotong royong menurunkan kayu-kayu bekas makanan rayap tadi..

Nahhh… tinggallah setumpuk kecil kayu kaso-kaso dan tripleks sisa yang masih lumayan dan tidak terpakai, teronggok begitu saja selama lebih dari sebulan dihalaman samping rumah saya.

Disela-sela bermain gapleh, kami pun secara tak sengaja membahas kayu sisa tadi.. untuk apa ya? muncul berbagai ide, dari mulai dibuat untuk kayu bakar sambil bakar ayam sampai membuat kandang kelinci,  kandang ayam, atau kandang jangkrik.. Jangkrik??? bukankah kandangnya kecil? tak perlu kayu sebanyak itu?… “ini untuk ternak cuy!” “kita ternak jangkrik!” Obrolan seketika jadi serius dan terus berlanjut dihari-hari berikutnya! saya pun cari nfo kemana-mana termasuk surpang surping di dunia maya!

Singkatnya.. kami bekerja sama (tentu saja lebih banyak mandor dari pada tukang) membuat satu buah kandang standard (referensi dari berbagai sumber) ukuran 60 cm x 60 cm x 120 cm, plus tinggi kaki 30 cm.

setelah selesai satu kandang yang dimiliki oleh 10 orang ini, kami pun patungan membeli telur jangkrik sebanyak 1 ons, dengan harga Rp 30.000 dari seorang teman..Konon katanya dari satu ons ini setidaknya kita akan menghasilkan jangkrik siap panen seberat 6-12 kg. (just wait and see!!)

Akhirnya tanggal 23 Juli 2010, kami bersepuluh “meletakkan telur pertama kedalam kandang! Hasilnya? kita tunggu tanggal 23 Agustus nanti!

Salam,

Tatang Rahman

Dipublikasi di Cerita awal "terjebak" jangkrik | Tag , , | 2 Komentar